Kejadian malam itu membuatku malas ketemu sama David dan untungnya David sudah beberapa hari nggak datang kerumahku, aku nggak tahu apa jadinya kalau dia sampai ngasih tahu Jo dan Kei tentang kerjaanku.
”Kak David mana kak? Koq sudah berhari-hari nggak pernah datang lagi?” tanya Kei ketika kami sedang sarapan pagi.
”Hah,,,nggak tau tuch. Mungkin udah balik.” jawabku sekenanya.
”Masa sich udah balik koq nggak ngasih tahu kita ya. Kakak nggak ada masalah kan sama kak David?”
”Ya,,nggaklah, udah dech cepetan sarapannya ntar telat lho.”
Setelah sarapan selesai aku ke mobil bersiap mau mengantar Kei dan Jo sekolah. Dan aku mendapati David sedang berdiri di sebelah mobilku.
”Pagi Nat.” Sapa David seakan kejadian waktu itu nggak memberi efek apapun ke dia.
”Pagi.” balasku.
”Bisa bicara sebentar.”
”Apa lagi yang mesti di bicarain? Sory aku mau ngantar Kei dan Jo ke sekolah.”
”Sory, kalau kamu masih marah soal malam itu, aku nggak maksud berbuat seperti itu koq, malam itu aku bener-bener kacau mendengar pernyataan kamu.”
”sudahlah nggak usah di bahas lagi, sudah lewat juga kan.”
”Kak David!” kata Kei yang baru keluar dari rumah. ”Kemana aja kak, udah lama nggak main ke rumah lagi?”
”Iya,,,lagi sibuk nich, persiapan mau pulang.”
”Mau pulang kak, kapan?” sambung Jo yang muncul dari belakang Kei.
”Besok Malam.”
”cepet banget kak?”
”Iya, kan waktu liburnya sidah habis.”
”Oh,, gitu, trus kakak pagi-pagi kesini ngapain? Pamitan ya?” Goda Kei.
”salah satunya itu, tapi selain itu juga ada yang mau di bicarain sama Nat.” david melirik kearahku.
”Cie,,,,cie,,,bicara apa nich.”
”sudah ah,,ayo cepat ntar kalian telat lho.” kataku. ”Kita bicarainnya ntar aja habis aku ngantar Jo dan Kei, kita baru bicara di cafe deket kampusku.”
”Ok, aku tunggu di sana.”
Aku masuk ke mobil diikuti Jo dan Kei dan aku mengantar mereka ke sekolah. setelah mengantar Jo dan Kei aku memarkirkan mobil di sebuah parkiran cafe dekat kampusku dan masuk ke cafe tersebut, disana sudah ada David yang duduk di sudut ruangan sambil menghirup minuman dan melambai ketika aku memasuki cafe.
”langsung aja deh, mau ngebicarain apa sich?”
”ehm,, kamu mau pesan apa?”
”Ayolah, nggak usah pake basa-basi bisa nggak.”
”Oke,,,aku minta maaf atas kelakukanku malam itu, aku nggak maksud kaya gitu, aku lagi di luar kontrol malam itu dan aku nggak mau ngebawa beban bersalah ini terus.”
”Nggak masalah koq, nggak perlu di bahas lagi.”
”Aku juga mau pamitan besok aku bakal balik.”
”Oke, hati-hati semoga kuliahmu sukses. O,,ya aku boleh minta tolong satu hal nggak?”
”Apa?”
”Tolong jangan kasih tau kerjaanku sama Jo atau Kei. Bisakan?”
”Oke, asal kamu maafin aku, aku nggak bakal ngebahas soal itu di depan kedua ade kamu.”
”Makasih dan aku sudah maafin kamu koq. Udah dulu ya aku ada kuliah pagi. See U.”
Aku meningalkan cafe.
* * *
Setidaknya aku sedikit tenang karena orang yang tau tentang pekerjaanku telah meninggalkan kota yang ku tempati, tapi aku nggak tau berapa lama aku bisa terus menutupi pekerjaanku dari kedua adekku, dengan uang yang selama ini aku kumpulkan aku mulai membuka usaha kecil-kecilan, aku membuka sebuah cafe dan tempat nongkrong dan aku pun mulai meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang kupu-kupu malam perlahan demi perlahan dan hanya memfokuskan pada kerjaan baruku dan kuliahku. Ternyata lepas dari satu pekerjaan dan mencoba kerjaan lain benar-benar tidak mudah, setidaknya aku butuh waktu setahun lebih untuk benar-benar hengkang dari kerjaan ku sebelumnya.
Di sinilah di sebuah cafeku yang baru aku memulai kehidupan baruku. Cafeku yang berisi beberapa sofa meja, tempat bartender dan wifi tentunya, sesuatu yang sangat di butuhkan semua orang yang sudah gila Online, dan kurasa ini dapat memikat para pengunjung untuk datang ke tempatku ini.
Di tempat baruku, aku juga menemukan seorang lelaki yang telah memikat hatiku dan setidaknya dia lelaki yang cukup baik. Walaupun dia masih belum tahu tentang pekerjaanku sebelum aku membuka cafe. Aku bertemu dia di cafe ini, dia termaksud salah satu pelanggan tetap di cafeku dan waktu itu dia menghampiriku serta mengajak aku berkenalan, tentu aja aku tidak menolaknya, karena kurasa dia orang yang cukup baik dan dia memang orang yang cukup baik namanya Kafka, seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dan dia juga cukup keren (menurutku, entahlah menurut orang lain).
Dan malam ini pun aku sedang bersama dia menghabiskan malam di cafeku.
”Nat, besok malam ada temanku yang menikah, bisa nggak kamu temanin aku??”
”Oke,, lagian nggak mungkin donk aku meninggalkan kamu sendiri, ntar disana kamu malah melirik cewe-cewe seksi yang lain lagi.” candaku.
”Ya,,,nggak lah, kamu kan sudah segalanya dan yang terbaik untuk aku, masa aku masih mau ngeliat cewe lain sich.”
”Halah, gombal.”
”serius, selamanya aku akan sama kamu, apapun yang terjadi.”
”Masa sich??” bagaimana jika kamu tau pekerjaan lamaku.
”Iya, I’m Promise. Kapan pun kamu butuh aku, aku akan selalu ada untuk kamu.”
”Tapi, aku mesti pakai apa ya untuk besok? Kamu pakai baju apa? Gimana kalau kita samaan?”
”Tuch kan mulai lagi dech bawelnya.” kata Kafka seraya mencubit lembut hidungku.
”Ih,,,apa-apaan sich.”
* * *
Aku mengenakan gaun pesta berwarna hitam begitu juga dengan Kafka mengenakan kemeja hitam. Kafka menjemput aku tepat pukul 7 malam untuk menghadiri acara perrkawinan temannya.
Kata Kafka sich yang menikah ini teman semasa SD-nya dan sampai sekarang masih deket sama dia. Tapi aku belum pernah dikenalkan sama temannya, kataya sich temennya selama ini bersekolah diluar negeri tapi karena kedua orangtua mereka tinggal di sini jadi acaranya berlangsung di sini.
Tamu undangannya cukup banyak juga, saat aku dan Kafka datang, ruangan sudah sangat banyak orang dan banyak orang antri untuk memberi selamat kepada kedua mempelai. Aku pun mengikuti Kafka untuk memberi selamat kepada kedua mempelai.
Ketika aku melihat mempelai pria dari kejauhan, aku merasa mengenal orang tersebut, aku yang sedari tadi tidak memperhatikan nama mempelai di depan pintu segera mencari-cari nama mempelai itu dan di slide berjalan aku menemukan nama David & Nova. Oh,,,no ini pernikahannya David.
”selamat ya Vid.”Kata Kafka mengucapkan selamat kepada David. ”Kenalin pacar,,,,”
Aku pun bersalaman dengan David.
”Nat, kan?”
”Lho kamu sudah kenal.”
”Iya, dia teman Sekolah aku waktu SMP.”
”Oh,,,bagus donk. Ya ,udah lain kali aja ya kita bicaranya. Sekali lagi Selamat ya.”
Aku dan Kafka meninggalkan pelaminan dan segera menyantap hidangan yang telah di siapkan.
”Nggak nyangka ya ternyata kamu kenal sama David.” kata Kafka ketika kami menyantap hidangan.
”Aku juga nggak tahu kalau kamu bakal ngajak aku ke perta pernikahannya David.”
”Ternyata dunia nggak begitu besar ya, untuk sebuah persahabatan.”
”Mungkin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar